Bedah buku The Future Society, Jumat,13 Februari 2026. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) yang dipimpin Dr. H. Isroqunnajah, M.Ag menghadirkan dua dari dua belas penulis buku The Future Society, Ahmad Zainul Hamdi dan Rumadi Ahmad.
Prof. Inung (Ahmad Zainul Hamdi) menyampaikan kegelisahan intelektual tentang bagaimana agama “bertahan hidup” di masa depan yang serba digital. Buku The Future Society sebenarnya lahir dari sebuah “kegalauan” kolektif terhadap masa depan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Prof. Ahmad Zainul Hamdi (Prof. Inung) menegaskan bahwa kita saat ini sedang hidup dalam kondisi buta peta. Kita punya banyak catatan masa lalu, tapi hampir tidak memiliki kajian serius tentang masa depan. Prof. Inung memberikan poin-poin refleksi mendalam untuk memancing diskursus akademisi agar mulai mengkaji masa depan. berikut poin poinnya:
1. Defisit Kajian Masa Depan
Selama ini, dunia akademisi kita lebih sering menengok ke belakang daripada memandang ke depan. Riset-riset yang ada jarang menyentuh proyeksi jangka panjang; paling jauh hanya membahas dampak media sosial atau perilaku Gen Z.
- Masalah Utama: Sentra riset kita belum mencurahkan energi untuk memetakan “apa yang akan terjadi”.
- Solusi: Muktamar Pemikiran digelar sebagai upaya untuk memulai studi masa depan (future studies) agar kita tidak terus-menerus gagap menghadapi perubahan.
2. Perspektif Waktu: Kita Adalah “Katrok” Masa Depan
Prof. Inung mengajak kita menggunakan kacamata sejarah yang sangat panjang. Jika kita melihat cara beragama manusia zaman batu (10.000 tahun lalu) atau peradaban 5.000 tahun lalu, kita mungkin menganggap mereka primitif atau “katrok”.
“Bayangkan 10.000 tahun dari sekarang. Manusia di masa itu akan melihat cara kita beragama saat ini sama katrok-nya dengan cara kita melihat manusia purba. Setiap zaman punya logika dan teknologinya sendiri dalam mengekspresikan ketuhanan.”
3. Paradoks Otoritas di Era AI
Saat ini, ekspresi keagamaan sudah berpindah ke genggaman tangan (gawai). Mencari kiblat, membaca Al-Qur’an, hingga konsultasi hukum agama kini melibatkan Artificial Intelligence (AI). Namun, kemajuan ini membawa paradoks:
- Kewenangan yang Terfragmentasi: Dulu, otoritas agama ada pada sosok ulama atau institusi tertentu. Sekarang, setiap orang memiliki “kewenangan” dan akses informasi yang sama luasnya.
- Agama Tanpa Ruang Fisik: Muncul tren di mana rumah-rumah ibadah mulai sepi atau bahkan tutup. Agama tetap menjadi kebutuhan, namun cara orang mengonsumsinya telah berubah total—mungkin di masa depan, ruang khusus fisik untuk beragama tidak lagi diperlukan.
Pandangan Prof. Inung mengingatkan kita bahwa masa depan adalah sebuah pertaruhan. Jika institusi agama dan akademisi tidak segera memetakan posisi mereka di tengah gempuran AI dan pergeseran pola ruang sosial, maka agama akan tetap ada sebagai kebutuhan, namun institusi-institusi tradisionalnya mungkin hanya akan menjadi catatan sejarah.
Ini sangat menarik. Jika Prof. Inung bicara soal “gelapnya peta”, Prof. Rumadi Ahmad justru masuk ke ranah yang lebih ekstrem: Dunia yang Anarki. Beliau memotret bagaimana institusi besar seperti NU atau negara mulai kehilangan kendali di tengah arus teknologi. Jika Prof. Inung menyoroti hilangnya peta masa depan, Prof. Rumadi Ahmad membawa kita pada kenyataan yang lebih menantang: kita sedang memasuki era “Dunia yang Anarki”. Buku The Future Society ini hadir sebagai syarah (penjelasan mendalam) bagi masa depan NU dan pesantren di tengah situasi global yang sedang “gonjang-ganjing”. Prof. Rumadi menyampaikan beberapa poin, sebagai berikut:
1. Gejala Anarkisme Global: Runtuhnya Otoritas
Prof. Rumadi menekankan bahwa anarki yang dimaksud bukanlah kekacauan tanpa aturan, melainkan dunia tanpa pemimpin tunggal. Otoritas pusat mulai ditinggalkan.
- Anti-Negara & Desentralisasi: Muncul kecenderungan masyarakat untuk tidak lagi percaya pada otoritas tunggal atau negara.
- Contoh Nyata: Fenomena ini terlihat bahkan di level internasional. Donald Trump (Amerika Serikat), misalnya, mulai mengabaikan PBB dan memilih jalannya sendiri. Ini adalah bukti bahwa tatanan dunia lama sedang runtuh.
2. Dari Ilmu Pengetahuan ke Teknologi Praktis
Dulu, peradaban dunia berlomba-lomba memajukan ilmu pengetahuan untuk menciptakan karya besar. Namun, hari ini paradigma itu bergeser.
- Instan dan Pragmatis: Fokus utama dunia sekarang adalah menciptakan teknologi yang bisa langsung digunakan (applied technology).
- Pertaruhan Baru: Kekuatan sebuah bangsa kini tidak lagi hanya diukur dari militer, melainkan dari penguasaan Ekonomi, Budaya, Lingkungan, dan tentu saja, Teknologi.
3. Spiritual Digital: Antara Ringkas dan Dangkal
Salah satu poin paling krusial adalah migrasi spiritualitas ke dunia digital. Ibadah kini berpindah ke layar gawai melalui spiritual online, meditasi berbasis aplikasi, hingga ritual digital.
- Sisi Positif: Dakwah menjadi sangat cepat, ringkas, dan jangkauannya luas.
- Risiko Besar: Prof. Rumadi memperingatkan adanya ancaman kedangkalan pengalaman spiritual serta komersialisasi agama yang berlebihan.
4. Tantangan Masa Depan: Menciptakan “AI Berjiwa”
Menghadapi dunia digital yang dingin dan mekanis, Prof. Rumadi melemparkan ide yang provokatif. Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi, tapi harus menjadi penciptanya.
“Kita butuh orang-orang yang mampu membuat teknologi atau AI yang memiliki kedalaman rasa. Bayangkan jika kita bisa membuat AI yang memiliki karakter atau cara berpikir seperti Emha Ainun Najib (Cak Nun)—teknologi yang tidak hanya pintar, tapi juga manusiawi dan spiritual.”
Bagi Prof. Rumadi, masa depan NU dan pesantren terletak pada kemampuan mereka berimajinasi di tengah dunia yang anarki. Pilihannya hanya dua: ikut larut dalam arus digital yang dangkal, atau mewarnai teknologi tersebut dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang mendalam. Narasi dari kedua narasumber ini sangat saling melengkapi! Prof. Inung bicara soal “apa yang hilang”, sementara Prof. Rumadi bicara soal “realitas baru yang berantakan”.
